Senin, 17 Maret 2014

Mungkin (Lelah)



Mungkin kalian mereka lelah mendengar bisikku yang tak pernah usai
                Bisikan yang tak pernah kalian mereka harapkan
                Bisikan yang membuat kalian mereka jengah
                Bisikan yang tak seharusnya kalian mereka terima
Mungkin kalian mereka lelah mendengar tangisku yang sama
                Tangisan sendu pada hal yang tak berbeda
                Tangisan lirih pada sesuatu yang terlalu pedih
                Tangisan kejemuan pada atmosfer yang membelenggu jiwa
Mungkin kalian mereka lelah mendengar teriakanku yang gila
                Teriakan yang berbeda antara hari ini dan kemarin
                Teriakan yang terkesan bodoh untuk diungkapkan
                Teriakan yang semu pada detik-detik senyuman terakhir
Mungkin kalian mereka lelah mendengar lisanku yang bercerita
                Hari ini sedih
                Kemarin terluka
                Besok bahagia
Mungkin kalian mereka lelah melihat kenyataan yang ada di pelupuk mata kalian mereka
                Aku – di satu sisi terhunus sembilu yang ceceran darahnya nampak di sepanjang perjalanan hidupku, di setiap deretan hembus napasku, di semua derap langkah kakiku
                Aku – di sisi lain berbahagia jelas dengan senyuman simetris yang menghiasi ujung-ujung bibir mungilku, tertawa lepas gembira sungguh tanpa rekayasa
                Aku
                Aku
                Aku


Tenanglah, kawan
Waktuku tak lama
Aku akan segera meninggalkan atmosfer kalian mereka
Aku tahu bahwa kalian mereka sudah terlalu lelah, amat sangat lelah, denganku – dengan diriku
Tenanglah, tak lama lagi aku akan pergi
Karena kutahu
Mungkin kalian mereka lelah



Jogja, 14 Maret 2014
09.50 pm

Jumat, 14 Maret 2014

Resep Cumi Goreng Tepung Crispy

Renyah. Gurih. Pastinya enak.
Okay, kali ini aku memposting tentang makanan (baca: masakan).
Selama ini aku hanya disibukkan oleh berbagai hal yang berkaitan dengan perasaan dan hati yang kemudian ditumpahkan semua dalam bentuk tulisan.
Nah, sekali-kali aku berbagi cerita tentang masak-memasak dehhh.
Aku membuktikan keahlianku dalam bidang kuliner. Wkwkk :D

Here we go.....
Cumi.
Entah kenapa aku suka banget mengonsumsi hewan laut yang satu ini (semenjak aku kuliah, sihh).
Maklum sajaaa, di rumah, ibundaku tercinta itu nggak pernah memasak CUMI karena emang beliau itu nggak suka.
-___-"
Alhasil, aku berkreasi sendiri sajalaaahh.

Sebenernya kalo di rumah aku emang suka masak. Tapi, nggak pernah kuekspos jadinya nggak banyak yang tahu. Nggak mau sombong, sihh. Wahahahaaa :D
Nah, sekaranglah waktu yang tepat buat nyombong dan pembuktian bahwa aku ini adalah wanita sejati, bisa masak!! :)
Check it out ajalaahhh, kelamaan cuap-cuapnyaaa:

  1. Ibundaku berbaik hati sekali mau membelikanku hewan laut itu seberat setengah kilogram sepulangnya beliau apel pagi di puskesmas induk (bundaku seorang perawat tangguh). Langsung deh capcus kuolah hewan laut yang bau amisnya setengah hidup itu. Kubersihkan kulitnya pake air mengalir sekaligus kubuang kulit arinya.
  2. Potong-potong cuminya berbentuk cincin.
  3. Cumi tadi ditaruh di wadah terus taburin garam secukupnya plus kasihin daun jeruk satu lembar aja, setelah itu diremas-remas. Diamkan 15 menit.
  4. Siapkan telur satu butir, kocok. Selain itu, siapkan juga tepung secukupnya (nggak jelas banget yee takaran tepatnya -_-) yang juga ditaburi garam secukupnya (lagi). *mengandalkan perasaan banget*
  5. Yang paling penting, panaskan minyak buat menggoreng (ya iya lah!). Alat yang dipakai tentunya wajan atau penggorengan atau apalah yang pantas.
  6. Mulai menggoreng. Cumi dicelupkan ke telur yang udah dikocok tadi terus diguling-gulingkan ke tepung, setelah itu masukkan deh ke wajan.
  7. Bolak-balik sampai kekuningan (jangan ngelamun, ntar gosong), angkat, dan tiriskan.
  8. Beres.
This is it:



Rasanya dijamin endeeeeesssss baaaahhhh.
Wkwkwkkk :D

Yepp, next time mungkin bisa upload foto-foto hasil masakanku yang lain (kalo sempet memfoto, sih). Heheee :D
Soalnya males banget kalo abis masak harus foto-foto dulu. Keburu ngiler kepengen makan. Hahahaaa :D

Jumat, 07 Maret 2014

Bagaimana Bila Kau Bertukar Tempat Denganku?

Bagaimana bila kau bertukar tempat denganku?
                Merasakan pedih yang menghujam hati dalam kurun waktu tertentu secara berulang, berulang, dan berulang.


Bagaimana bila kau bertukar tempat denganku?
                Merasakan kecemburuan yang sama lagi, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi, hingga ku tak merasakan arti dari cemburu itu sendiri. Hingga aku lupa hakikat cemburu. Hingga aku tak merasakan getaran cemburu itu lagi. Hingga aku membunuh perasaanku agar cemburu itu benar-benar mati, hilang, raib dimakan masa.


Bagaimana bila kau bertukar tempat denganku?
                Mengetahui kenyataan yang begitu memilukan seakan tak ada gunanya aku hidup di dunia ini. Mengetahui bahwa aku bukan satu-satunya wanita tempat disematkannya kata “sayang”. Mengetahui bahwa janji suci pernikahan tidak diutarakan kepadaku, melainkan kepada makhluk lainnya.


Bagaimana bila kau bertukar tempat denganku?
                Mengetahui kebohongan berulang. Mengetahui kebohongan yang sama untuk wanita yang berbeda. Mengetahui kebohongan yang dapat kuduga sebelumnya. Mengetahui kebohongan yang sungguh sudah tak layak aku dengar.


Bagaimana bila kau bertukar tempat denganku?
                Hati tercubit untuk ke-sekian kali, tertoreh luka permanen, butuh waktu yang tidak singkat untuk kembali sembuh. Hati teriris lebih dan lebih menyakitkan daripada hujaman sembilu setajam maupun setumpul apa pun itu. Hati yang berteriak terlalu sering, tetapi tak pernah terungkap ke permukaan. Hati yang telah mati, tak merasakan apa pun.


Bagaimana bila kau bertukar tempat denganku?
                SAKIT, TUHAN....... SAKIT.....!!!!!


Bagaimana bila kau bertukar tempat denganku?
                Air mataku dibuang begitu saja, kasih sayangku diremehkan, pengorbananku disia-siakan, perhatianku dianggap angin lalu, kepercayaan yang kuberikan dinomorduakan, dan kesetiaanku dipermainkan.



Bagaimana bila kau bertukar tempat denganku?

Senin, 03 Maret 2014

Prosedur Surat Ijin Penelitian

Mengurus surat izin riset sebenarnya adalah hal mudah. What?!! Mudah?!! Iya, mudah, selama kita mengikuti prosedur yang sesungguhnya dan membawa hati kita dalam suasana yang ceria. Kalo udah bad mood duluan, dijamin deh jalannya ngurus surat itu jadi hal yang super menyebalkan. Intinya, kita harus ikhlas and just let it by the flow aja. Wkwkwk :D

Ok, gak usah lama2, langsung aja aku share pengalamanku dalam urusan surat izin riset ini. Here we go...
Aku berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Fakultas Sains dan Teknologi. Jurusan Pendidikan Fisika. Angkatan 2010. Penelitian yang kulakukan berlokasi di SLB-A YAAT Klaten. Jadi, di luar kota nih. Otomatis, surat izinnya berbeda dari penelitian yang berlokasi di Jogja. Well, aku mengunduh surat izin riset di website UIN tercintrong, http://www.uin-suka.ac.id. Ada dua surat yang harus kuisi identitasnya, kemudian aku minta tanda tangan kepada pihak yang bersangkutan, setelah itu dicap oleh pihak fakultas sebagai tanda resminya. Dua surat sudah di tangan. *yeaaayyy*
untuk Kesbang Jogja
untuk sekolah
Pada hari Kamis, 30 Januari 2014, aku datang ke Bakesbanglinmas (Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat) Jogja yang beralamat di Jalan Jenderal Soedirman No. 5 Yogyakarta 55233. Untuk singkatnya sih kita nyebutnya Kesbang gitu aja ya. Lokasinya kalau dari UIN, ke barat aja lurus, sebelum Tugu kanan jalan, setelah Hotel Phoenix. Berkas yang aku bawa antara lain Surat Pengantar Izin Penelitian dari fakultas (1), fotocopy KTP (1), fotocopy KTM (1), dan proposal skripsi. Sampai sana nggak langsung diurus sih, nunggu hari Senin baru bisa diambil surat lanjutannya (soalnya hari Jumat tanggal merah, hari Sabtu emang libur tuh kantor). Aku dilayani dengan ramah oleh ibu-ibu pegawai sana. Hehe :D. Oh iya, tempat dilayaninya di lantai 2. Parkirnya juga nggak bayar, gan.


Fine, tibalah hari Senin, 3 Februari 2014. Aku ke Kesbang lagi nih buat ambil surat. Sampai sana aku dilayani dengan ramah juga oleh bapak-bapak yang lumayan sepuh. Seperti inilah wujud suratnya:
Surat pengantar dari Kesbang Jogja untuk Gubernur Jateng

Nah, surat itu sebagai surat keterangan untuk disampaikan ke Gubernur Jawa Tengah. It means, aku harus ke Semarang buat nyerahin tuh surat. Di situ juga tertulis, tembusan diserahkan ke Dekan. Baiklah, kugandakan suratnya kemudian kuserahkan ke fakultas. Harus selalu diingat bahwa surat yang asli HARUS berada di tangan kita, nggak boleh sampai jatuh di tangan pihak lain, karena itu arsip penting buat kita. Okay, urusan persuratan di Jogja sudah beres. ^_^ *senyummalaikat*


9-10 Februari 2014 adalah hari-hariku di Semarang. 


Senin, 10 Februari 2014, jam 9 pagi capcus ke kantor Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) yang beralamat di Jalan MGR Soegijopranoto No. 1 Semarang 50131. Cukup di lantai 1, pelayanannya ramah sekali seperti di bank-bank. Ada jatah antri gitu. Nah, aku dilayani oleh pegawai dengan seragam PNS. Berkas yang kuserahkan antara lain proposal skripsi, surat pengantar dari Kesbang Jogja (1), fotokopi KTP (1), dan fotokopi KTM (1). Nggak sampai 20 menit, urusan surat selesai. Yey, bisa pulang deh. FYI, parkirnya nggak perlu bayar kok, sekalipun ada security di situ.
Surat dari Semarang kayak gini nihh:
halaman 1
halaman 2
Lanjut ke next story, Klaten!

Nice morning, Kamis, 27 Februari 2014, aku siap menyusuri Klaten dengan Baby Red yang fit setelah dia menjalani perawatan di Ahass Jogja selama satu setengah jam. *gapenting banget info barusan*

Anyway, aku berangkat dari Jogja sekitar jam 09.45. Langsung capcus ke kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbang) Klaten yang beralamat di Jalan Merapi No. 6a Klaten 57423. Sampai sana, aku dilayani pegawai yang berwujud ibu-ibu. Ternyata eh ternyata, pihak Kesbang tidak menerima surat tembusan dari Gubernur Jawa Tengah, melainkan menerima dari Bappeda Klaten. Oh, God. Langsung deh aku gas pol ke sana.

Berhubung aku belum tahu Bappeda itu mana, akhirnya kusengaja menyasarkan diri ke Pemda Klaten. Dari pintu gerbang itu, langsung ketemu security deh, dan tanya-tanya. Ternyata kantor Bappeda itu ada di belakang kantor Pemda Klaten sekitar 100 meter, nggak jadi satu kompleks sama Pemda. Hahaduhh, ngakak parah ngetawain diri-sendiri deh.
Setelah mengikuti petunjuk bapak security yang di Pemda tadi, akhirnya kutemukan juga Bappeda. (Sebenarnya aku sudah diberitahu oleh Papa letak kantor Bappeda, tapi emang karena akunya yang kurang kerjaan dan iseng aja pengen ngeliat Pemda itu kayak apaan, alhasil aku menyasarkan diri aja deh ke sana!)
Nama kantornya sih Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dengan alamat Jalan Pemuda No. 294 Gd. II Klaten 57424. Well, sampai di halamannya sih yang pertama kulihat mobil-mobil yang terparkir rapi, motor yang berjejeran, dan ada penjual duren yang sempet-sempetnya jualan di halaman kantor pemerintahan itu. Langsung deh aku parkirkan motorku sesuai arahan bapak-bapak yang kupikir emang tukang parkir di situ. Lanjut kutanya deh sama security kalo mau ngurus surat riset di mana. Dan beliaunya menjawab, “Di lantai 2 mbak, setelah itu belok kiri.” Okelah, capcus.
penampakan depan gedung Bappeda

Menyusuri lantai satu ke lantai dua sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama, karena begitu masuk lewat pintu utama langsung dihadapkan pada anak tangga. Suasananya tuh kayak masuk bangunan tua jaman baheula deh, tapi nggak serem-serem amat sih. Setelah sampai di lantai 2, aku langsung belok kiri deh, eh langsung aja aku disapa pegawainya (bapak-bapak lagi). Oh, Tuhan. By the way, kenapa pegawai pemerintahan yang kerja kebanyakan orang-orang tua? Yang masih muda, seger, kinclong, bening, di bagian mana sih? Lupakan. Kembali ke pembahasan.
semacam hiasan
memasuki koridor
Aku langsung dilayani oleh bapak-bapak sepuh berkaitan dengan surat izin risetku. Yahh, basa-basi lah, ngomongin dari kampus mana, jurusannya apa, mau penelitian di mana, kok ambil penelitian di SLB, and so on. Aku menyerahkan surat keterangan dari Gubernur Jawa Tengah dan proposal skripsiku. Setelah mengisi keterangan secukupnya di suatu-buku-milik-bappeda-yang-kelihatannya-sudah-hampir-lapuk, aku diberikan surat keterangan riset untuk berbagai pihak, salah satunya adalah Kesbang.
ngisi keterangan

Surat dari Bappeda seperti ini:
surat pengantar dari Bappeda Klaten untuk sekolah
Okay, fix. Aku harus menggandakan surat itu sebanyak 4 lembar dan menggandakan KTM-ku sebanyak satu lembar, nah ngopy-nya di lantai 1. Turun ke lantai 1, aku ngopy 5 lembar deh, bayarnya seribu rupiah (anyway, KTM-nya kelupaan di-fotocopy. Nggak apa-apa. Namanya juga khilaf). Di tempat fotokopian ini, aku dilayani oleh ibu-ibu yang raut wajahnya judes setengah mampus. Biarlah, kutahan-tahan aja biar semua cepet beres. Walaupun hasil fotokopiannya kurang memuaskan (cuma lamat-lamat kayak kehabisan tinta), nekat aja aku bawa hasil fotokopian itu ke lantai 2. Ternyata diterima juga dan aku berhasil mendapatkan cap sekaligus amplop untuk selanjutnya diserahkan ke berbagai pihak yang bersangkutan. Well, selesai untuk urusan di Bappeda. Siap untuk kembali ke Kesbang. Waktu aku mau ambil motor, ditangani tukang parkir deh. Bayar juga seribu rupiah buat parkir. Hahaaa LOL :D


Balik lagi ke Kesbang Klaten.
penampakan luar gedung kesbang

Sesampainya di sana, disambut oleh ibu-ibu yang pertama melayani aku tadi. Langsung deh surat dari Bappeda Klaten diterima dengan baik, sementara yang dari Gubernur Jawa Tengah ditolak. Tuhaaaaannnn. Sudahlah, selesai untuk urusan di Kesbang. Sudah selesai semuanya? Belum, bro. Masih lanjut ke Dinas Pendidikan. Yuuukk mariiiiii.
Muter lagi deh menuju Dinas Pendidikan Klaten yang beralamat di Jalan Pemuda Selatan No. 151 Klaten.
Dinas Pendidikan Klaten

Masuk ke halamannya, agak bingung soalnya halamannya sempit, mana mobil sama motor banyak banget lagi yang parkir. Tapi untungnya aku dapet satu spot yang enak buat markirin The Baby Red. Sebelum aku beranjak dari tempat parkir menuju ke kantornya, aku sedikit ragu untuk masuk, karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.35, waktunya istirahat pikirku. Ah, tapi kepalang tanggung nih. Akhirnya nekad juga masuk. Tapi sebelum masuk ke kantornya, lagi-lagi tanya dulu sama orang. Aku nemuin sosok bapak-bapak yang kupikir adalah pegawai kantor situ. Dari beliau aku tahu juga nih letak persis ruangan yang diperuntukkan ngurusin surat riset. Nah, sesampainya di tempat, aku dilayani ibu-ibu (lagi). Well, cuma menyerahkan surat tembusan dari Gubernur Jawa Tengah. Sudah, itu saja. Setelah itu, pulang. Go home. Waoooowww. Finally, urusan surat tembusan untuk Dinas Pendidikan Klaten selesai juga.


ALHAMDULILLAH.


Rasanya capek loh, serius! Muter-muter ke sana kemari bolak-balik udah mirip setrikaan, yakinnnn! Tapi lega setelah melewati fase itu. Bener deh! Plong rasanya. Udah nggak ada yang ngganjel lagi untuk urusan administratif seperti itu. Benar-benar merasakan pahit manisnya perjuangan ngurus ini-itu sendiri adalah hal yang mengesankan, loh. Mental dan fisiknya bener2 diuji. Mental: harus pasang muka badak, nggak boleh malu apalagi gengsi buat tanya-tanya ke siapa aja meskipun kelihatannya kayak orang bego. Fisik: harus sehat betul kondisi badannya untuk melewati medan yang demikian crowded-nya (waktu itu kebetulan kondisiku lagi kurang fit, semacam gejala flu, badan aras2en, tapi tetep aja namanya ELLIZA kalo gak nekad dan keras kepala ya bukan ELLIZA).

Demikian. Itu ceritaku dalam hal ngurusin surat izin penelitian. Semoga bermanfaat.