Tampilkan postingan dengan label Buah Pikiranku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buah Pikiranku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2018

Sunset Chill Out at Agra Alila Solo

“Sunsets are proof that endings can be beautiful too”
I love the quote above. It explains a lot about, what you call, perpisahan.
Anyway, perpisahan bukan selalu berarti hal yang menyedihkan. Perpisahan yang aku maksud sesederhana berpisahnya aktivitas siang hari yang berganti dengan aktivitas malam hari. Dari hal yang penuh kesibukan, berganti menjadi hal yang diperuntukkan rehat. Dari segala keriuhan, menjadi ketenangan. Sesederhana itu.

Aku memandang saat-saat di mana matahari terbenam sebagai saat transisi bergantinya aktivitas yang padat menjadi longgar. I’m enjoying it. Saat-saat di mana aku bisa merenungkan segala kejadian along the day, menakar kembali fase demi fase peristiwa, menikmati atmosfer di kala senja, menghirup udara sore hari, dan memandangi proses pergantian warna langit dari terang menuju gelap. Semua hal itu bisa aku rasakan hanya saat senja datang, when the sunset goes down.

Jumat, 6 Juli 2018, berlokasi di hotel Alila Solo, tepatnya di Agra yang berada di lantai 29, aku berkesempatan memanjakan jiwa dan raga untuk menikmati saat-saat matahari terbenam itu. Bersama dengan komunitas Blogger Solo, aku hadir di sana. Bersenda-gurau, bertegur sapa, bersua rindu, dan bertukar cerita. Dimulai pukul 16.30, aku hadir di sana. Disambut ramah oleh assistant PR and manager Alila dan dipersilakan untuk, you know, menikmati suasana. Just chill out.
Agra Alila
Memandangi kota Solo dari ketinggian yang lumayan bikin jantung berdesir, ternyata bisa bikin amazed juga. Bangunan lain di sekitarnya tampak kecil, apalagi kendaraan yang berlalu-lalang di ruas jalan. Waktu pun bergulir. Semakin lama, semakin mendekati malam. Yang terlihat di bawah sana, dan yang ada di kejauhan, hanya sebatas kerlip lampu. However, it’s such a heavenly view.

Tidak hanya menikmati suasana maupun pemandangan, kami pun disuguhi dengan berbagai makanan dan minuman. Selain itu, ada hiburan music performance. Hmm, sungguh menarik, bukan? Kamu pun bisa menikmati hal yang sama di sini, enjoying the circumstances, meals, and beverages. It’s free entry, anyway. Kecuali kalau ada event tertentu. Berikut beberapa menu yang disuguhkan saat kami di sana:
the beverages
Marry Me: cranberry juice + pandan syrup + passion fruit foam
Green Land: fresh kiwi + fresh cucumber + lemon juice + pandan syrup
Berkentini : beras kencur + fresh orange + lemon juice +gomme syrup
Red Dragon: hibiscus tea + pandan syrup + lemon juice
Bakes Fish with Thai Chili Sauce
Chicken Breast
Roasted Beef with Mushrooms Sauce & Roasted Potatoes
Sicilian Style Gindara
Spotted Pulled Lamb Braise



So lovely, right? Rasanya aku ingin mengulang hal itu lagi. Haha 😃😄
Bagaimana denganmu?
Kamu bisa lihat-lihat seperti apa Agra Alila itu dengan stalking akun Instagramnya di Agra Rooftop.

See you on my next post! 💙

Senin, 26 Maret 2018

ICoSEd 2017 - Menjejakkan Kaki di Surabaya

Helloooooooooooooooo!!

Welcome to my blog, netizen!
Gimana kabarnya? Semoga selalu baik dan bahagia, ya!
This time let me tell you a story. It's about being a part of international conference.



ICoSEd.
International Conference on Science Education.
Ini pengalaman keduaku mengikuti seminar internasional. Sebelumnya, aku pernah nulis tentang pengalaman pertamaku di ICoSMEE. Coba aja deh klik di sini buat baca selengkapnya tentang seminar yang aku ikuti di Solo itu. Aku udah ngejabarin secara alay lengkap dan penuh emosi tentunya! Hahahah!! 😝😈
ICoSEd ini diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya alias UNESA, di Surabaya, tepatnya di Fakultas MIPA, UNESA, pada tanggal 11 November 2017 bertemakan "Strengthening Science Education Practices for 21st Century Skills".
Subtema:
1. Research and development on science education.
2. Best practices towards science teacher professionalism development.
3. Ideas for developing science education institution.
((udah keriting belum otak lu? 😵))

Setelah menempuh perjalanan sepanjang 283 kilometer dan dengan waktu tempuh selama tujuh jam 30 menit, akhirnya aku menapakkan kaki di bumi Surabaya untuk mengikuti acara penting bin krusial yaitu seminar internasional bernama ICoSEd. 🙌

Acara ini dilaksanakan seharian, mulai dari pagi sampe sore, dibagi menjadi dua sesi, yaitu Pleno dan Parallel Pleno. Acara ini berlokasi di Gedung Auditorium Prof. Dr. Slamet Dajono FMIPA UNESA.
Acara paling awal tentu saja adalah opening ceremony yang berlangsung selama 20 menit. Ada sambutan-sambutan tentunya. Nah, abis itu baru deh masuk ke acara Pleno.
Pleno ini diisi oleh empat orang keynote speakers yang dimoderatori oleh Tjipto Prastowo, Ph.D. Ini dia list pembicara di sesi Pleno:
  1. Prof. David Treagust, dari Curtin University of Technology, Australia.
  2. Prof. Hans-Dieter, dari Barke University of Munster, Germany.
  3. Prof. Abdullah Dolah Dalee Yala, dari Rajabhat University, Thailand.
  4. Prof. Dr. Muchlas Samani, dari State University of Surabaya, Indonesia.
Sesi Pleno ini berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Lama atau sebentar, it depends. Mhehehehehhh~ 😁
Selama sesi Pleno ini, aku lebih banyak diem bukan karena memperhatikan anyway, melainkan karena emang dasarnya aku ngantuk dan kepengen tiduuuurrrrr *pemalas*. Zuzur zaja, saat itu aku lagi abis demam, masuk angin, flu, dan sebagainya.
Jadi, pas aku ke Surabaya ini, aku posisi lagi abis sembuh sakit banget gitu deeeeehhh. Sooooo, badan rasanya cuma pengen istirahat ajaaaaa. *alesanmuhhhhh, ell*
Sebenernya lebih ke arah menyimpan energi diri-sendiri untuk presentasi di sesi Parallel Pleno yang dilaksanakan di ruang yang berbeda. *alesan lagi kan ckckckck*
Setelah sesi Pleno berakhir, break dulu dong. Makan, sembahyang, dan komat-kamit baca mantera biar presentasinya lancar. Pukul 13.00 acara Parallel Pleno pun dimulai.
Aku bersama kawan-kawan seperjuanganku dari kampus UNS Solo pun berpencar mencari ruang masing-masing dan yang berada di gedung yang berbeda-beda (gedung C8, C9, dan C12).
Well, aku sendiri lupa aku dulu berada di gedung apa dan ruang yang mana. *pelupa* 😴
Yeaaa maklumin ajaaaa, aku seminar bulan November 2017, sementara aku menuliskan ini bulan Maret 2018. *cari alesan lagi*
*OMG ell, kamu emang banyak halesaaann yaahhhhh*
Yak, setelah sampai di ruangan, aku pun menanti giliran dipanggil untuk melakukan stand up comedy presentasi. Judul paper-ku yaitu Profile of Student's Understanding in Kinetic Theory of Gases. Nah, kalo presentasi kali ini aku sedikit lebih banyak ada persiapan nihhhhhh. Nggak kayak presentasi sebelumnya seperti di ICoSMEE. *akhirnya bisa belajar dari pengalaman*
Eh tapi tetep aja masih belepotan ngomong enggres-nya. Wkwk~ 😅
*ra sembodo karo gayane*

Cuplikannya kayak gini nihhh:

Nggak diedit, langsung unggah! Muahahahahhh~ Mamam tuh~ 😎

Sebenernya satu hal penting dan utama yang diperlukan untuk presentasi adalah kemampuan public speaking. Udah. Di dalamnya udah terangkum berbagai macam hal, seperti kepercayaan diri, keterampilan mengolah kata, kemampuan me-manage emosi (termasuk rasa grogi), dan bahasa tubuh. Aku masih harus belajar banyak dan berlatih sesering mungkin ngelakuin hal kayak gini. Ternyata penting banget, vroh. Karena, setiap kali aku melakukan presentasi, selalu saja gejala perut mules, tangan membeku, dan jantung berdebar menghiasi detik demi detikku.
Setelah presentasi selesai, tentu saja acara selesai. *yaiyalaaahh sist*
Sebagai generasi millennial post-modernisme, aku tentu tidak melewatkan sesi foto-foto demi feeds media sosial. Supaya momen ini terkenang dengan baik, tidak ada salahnya untuk menciptakan jejak dengan cara berfoto. Begitu.
So, let's spread the memories!
foto sama temen-temen (dan salah satu dosen) UNS
partner in crime 😜
bersama salah satu keynote speaker
gank satu ruang saat presentasi
Anyway, seperti yang sudah aku sebutkan di atas, aku lagi abis banget sembuh dari sakit dan sebenernya itu muka harusnya pucet-pasi macem zombie. Akan tetapi, aku bisa mengakalinya biar lebih seger, centess, dan layak tampil tentunya karena the power of makeup. Macem-macem makeup look bisa banget di-scrolling lohhh di akun Instagram aku. Coba aja cek @ellizaefina. Kalo kamu mau wisuda, pesta, jadi bridesmaid, mau prewedding, mau dilamar, ato mo NIKAH, bisa tuh hubungin @ellizaefina. *ending-nya promosi* 😂
Sekian dulu cerita dari aku, guys!
See you on my next post!

Kamis, 22 Maret 2018

Dua Gelas Minuman

Katanya, kita harus menuruti kata hati.
Katanya, kita juga harus mementingkan akal pikiran.
Katanya, kita harus percaya intuisi.
Katanya, kita juga harus pandai menganalisa.

Namun, bukankah hidup ini tidak lebih dari senda-gurau belaka?
Lalu, untuk apa berpikir dan bertindak terlalu keras padahal semua sudah ada yang mengatur?
Ya, kita tidak boleh berpasrah semata.
Pun tidak boleh terlalu sungguh dalam apapun.

Semua kisah yang terjadi pasti ada alasan.
Segala peristiwa tidak berlalu begitu saja.
Apapun situasi dan kondisi yang ada pasti sudah ada jalannya sendiri.
Bagaimanapun atmosfernya memang sudah beralur demikian.

Aku bukanlah pemaksa.
Bukan juga pemasrah.
Aku bergerak mencari.
Tapi, aku juga diam menanti.

Sudahlah, kita nikmati sejenak minuman kita.
Biarkan waktu berlalu tanpa jeda.
Selama kau dan aku bersama.
Semua akan baik-baik saja.



Complete review of the beverages please kindly follow this link: Brix Coffee





di pojok cafe
sendiri
sedang teringat kamu yang di sana
22/03/2018 04.29 pm

Rabu, 22 November 2017

Cuteness Overload - Chacha Milk Tea

Bahagia paling mudah didapatkan dari tawa. Sesederhana itu. Tertawalah. Salah satu hormon pemicu kebahagiaan dalam diri pun memancar secara otomatis. Iya. Tertawa. Seperti sore itu. Obrolan kecil tanpa jeda mengalun seirama dengan emosi positif yang membuncah. Dua gelas milk tea aneka rasa bertindak sebagai mediator - penengah tatkala kehabisan energi akibat saking bisingnya gagasan-gagasan di kepala yang telah diluapkan melalui kata dan kalimat - dalam dua jam percakapan. Waktu berjalan tanpa terasa. Waktu sudah habis pada akhirnya. Satu-satunya penghenti percakapan yaitu waktu sudah habis.
Green Milk Tea & Caramel Milk Tea
Minuman yang sesungguhnya sangat tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi. Kombinasi teh dengan susu bukanlah sesuatu yang tepat untuk diserap dalam tubuh. Terlalu banyak kalori. Namun, apalah arti kalori kalau perkara rasa sudah berbicara.
French Fries Original
Minum saja tidak cukup. Pasti ada cemilan sebagai kawan. Kentang goreng rasa original sungguh pilihan tepat. Jeda terbaik dalam sebuah percakapan adalah saat mengunyah makanan dan menenggak minuman. Setelahnya, percakapan kembali mengalir. Detik demi detik yang bergulir tiada akan terdeteksi. Semua terasa cepat. Dan, akhirnya pulang.

Selasa, 21 November 2017

A Piece of Sweet Afternoon - Calais

Setiap kisah kerapkali dihadirkan tanpa kata awalan, kata penunjuk, bahkan kata perintah. Ada segelintir cerita yang mengalir begitu saja ketika kita berada pada titik kulminasi, entah itu titik terendah atau tertinggi. Boleh jadi, memang semesta menyajikannya demikian, agar hati kita siap dalam menghadapi garis kehidupan selanjutnya. Kita tidak bisa menolak, memungkiri, dan menampik segala peristiwa yang telah terjadi. Tuhan beserta semesta bekerja sama untuk itu. Kita? Terima saja. Jalani saja. Hadapi saja.
Smoothies and Coffee
Ada satu titik yang tidak terdefinisi oleh akal maupun rasa. Disebutnya keajaiban. Dan aku menyebut itu kita.

Di sepanjang milisekon bergulir, berjumpa dengan ribuan manusia, berjibaku dengan milyaran kata demi kata, berelaborasi dengan partikel super kerdil tak kasat mata di mana pun berada, beradu emosi dengan peristiwa demi peristiwa, kalau memang sudah ditakdirkan untuk terjadi, maka terjadilah.

Dan, bila strawberry smoothies serta coffee milk tea telah bertukar cerita satu sama lain, manis pahit asam terasa sangat jelas di indera kita. Dan nyata, kita telah saling. Satu hal: kenapa baru sekarang?
Kemudian terjawablah: karena memang ini yang terbaik dan tepat.

Complete link to read the beverages: Calais Tea

Sabtu, 28 Oktober 2017

Sejenak Mengingat Masa Itu (Oleh-Oleh Expo Alat Peraga di GOR UNY Jogja)

Pernahkah kamu mengalami sesuatu yang begitu berkesan dalam hidupmu sampai-sampai kamu merasakan dadamu sesak, pikiranmu terbawa, dan rentetan peristiwa itu berulang-ulang terbayang di otakmu? Pastinya pernah, ya. Aku pun begitu. Entah ini perasaan yang terlalu berlebihan atau apa, tapi bagiku hal ini membuncah luar biasa dan tidak ada tandingannya. Sekali seumur hidup.

Suatu hari, aku mendapatkan sebuah chat dari seorang adik tingkatku. Dia – atas nama para dosen – meminta izin untuk menampilkan produk penelitian pengembanganku yang berupa alat peraga (yang dulu aku hasilkan untuk menempuh jenjang sarjana) di sebuah expo alat peraga yang diselenggarakan di GOR UNY Jogja. I was so excited and I let him did his job. Aku pun turut diundang untuk menghadiri expo itu. Yah, sekadar jalan-jalan, nonton-nonton, juga nggak masalah, pikirku.

Rabu, 4 Oktober 2017 aku datang di acara itu. Satu hal yang tebersit di otakku saat itu: bukan main ramainyaaaaaaaaaaaa! Ternyata peserta expo ini banyak bangeeeettttt! Dari banyak universitas, sekolah, bahkan kabupaten di provinsi sebelah. Objek yang ditampilkan pun bervariasi. Ada alat peraga, media lain, produk khas daerah, produk inovasi, dan sebagainya. Aku juga berkeliling untuk melihat-lihat. Tapi, teteeeeuppp, fokus utamaku di stan tempat alat peragaku ditampilkan.
Stan
Di sinilah dia berada. Aku menghampiri stan ini yang ditunggui oleh beberapa mahasiswa Teknik Industri UIN Sunan Kalijaga. Ya ngobrol-ngobrol, lihat-lihat, berinteraksi lah layaknya manusia normal. Wkwk~
Di sini aku memuaskan hasrat terpendamku, rindu terdalamku, dan bahagia tanpa eksklamasi kepada sebuah benda *halah*.
Benda bukan sembarang benda. Ini benda bersejarah, bernilai tinggi, dan tidak tergantikan. Ia menjadi saksi bisu perjuangan hidup-matiku, sedih-senangku, tawa-tangisku, dan letih-riangku di kala aku menjalani hari-hari sebagai seorang mahasiswi semester akhir yang berikhtiar untuk menyelesaikan jenjang pendidikan sarjana di sebuah perguruan tinggi negeri. Sejenak, aku kembali mengingat masa itu, kembali ke masa-masa hidupku dikepung oleh S K R I P S I, kembali ke tahun 2014.


Hello, there.
Tema penelitianku adalah pengembangan media untuk siswa tunanetra. Media yang aku kembangkan ini berupa alat peraga sistem tata surya. Media lainnya berupa rekaman materi sistem tata surya (untuk diperdengarkan kepada siswa tunanetra sehingga dapat membantu mereka memahami konsep) dan lembar thermoform untuk penjelasan materi lebih lanjut.


Namun, alat peraga yang ditampilkan di sini hanya alat peraga utama, yaitu satu papan kayu yang berisi delapan planet. Oke, semesta jadi sempit rasanya kalau digambarkan dengan sebilah papan kayu. Alat peraga ini didesain semirip mungkin dengan kondisi asli alam semesta raya ini, meskipun nggak presisi-presisi amat, at least mendekati aslinya lah.
Alat peraga ini dibuat dari kayu sonokeling. Kenapa sonokeling? Karena kalau kayu jati, aku harus jual ginjal dulu buat bayar kayunya. Mahal gilaaakkk, coy!!
Alhasil, tiada jati, sonokeling pun jadi. Yang penting awet koyo hubunganmu karo deknen senajan endinge kandas.
Hayoooo, planet apa aja itu?
Overall, kualitas kayunya bagus. Udah tiga tahun lebih tapi masih kokoh dan kinclong. Yang nggak awet itu keterangan berupa tulisan Braille yang aku buat di mika. Tulisan Braille-nya sebagian besar udah rata, nggak timbul-timbul lagi. Ya gimana? Saat itu aku mikirnya kira-kira bahan apa yang mudah digunakan untuk menuliskan tulisan-tulisan Braille dengan reglet dan pen (alat untuk membuat tulisan Braille). Satu-satunya yang terlintas cuma mika *mikir instan, ngga mau ribet*.
Jadi, yaudahlahya~
Wolesin ajaaa~
Penawar rindu adalah temu.
Quote yang sungguh --hak deszhhh--.
Ternyata aku kangen sama alat peraga itu. Begitu ketemu, ehhhhh, hati rasanya kayak abis diguyur air es bergalon-galon. Nyessssss banget.
Bisa lihat-lihat, pegang-pegang, terus kayak mo nangis aku tuuuuuuhhhhh keinget jaman-jaman dulu susah-payah ngerjain ginian. Kalo urat maluku udah lepas, rasanya mo aku peluk terus aku bawa pulang itu alat peraga.

Aku bikin dua paket alat peraga itu. Satu paket buat sekolah, satunya lagi buat kampus. Nah, yang dipamerin di Expo ini alat peraga yang disimpen di kampus.
Hadeeeehhh, sungguh. Otakku serasa jalan-jalan ke dimensi lain dan menetap di tahun 2014 saat aku sedang menjalani penelitian. Aku bikin tulisan komplitnya juga, loh. Coba aja klik di sini.


Si adik tingkat yang udah mengontakku (batik merah)
Terima kasih sedalam-dalamnya kusampaikan untuk si adik tingkat, dosen pembimbing skripsiku yang masih keep in touch hingga detik ini tapi belum sempat ketemu (I miss you so much, Miss W), dosen-dosen lainnya yang sudah mewariskan ilmu kepada gadis-yang-selalu-merasa-salah-jurusan ini, dan semua pihak yang telah berkongsi dengan semesta untuk mempertemukanku kembali dengan alat peraga berjuta kenangan ini.
God bless you all.
Baik-baiklah mencipta kenangan di saat ini. Kelak di masa depan, kamu akan menengok masa lalumu dan berkata, "Ya, aku pernah di sini." seraya tersenyum simpul dan menyampaikan limpahan rasa syukur berikut terima kasih kepada Tuhan - Sang Perancang Semesta Raya.
 See you on my next post, guys.

Jumat, 27 Oktober 2017

Yang Kamu Butuhkan Hanyalah Secangkir Kopi

Pikiranmu lelah?
Badanmu tak berdaya?
Mentalmu terjun bebas?
Perasaanmu amburadul?

Itu manusiawi, bro. Setiap manusia pasti pernah melalui fase itu. Di saat kamu menginginkan segalanya berjalan semestinya sesuai dengan ekspektasimu, terkadang semesta sedikit membuat candaan di mana rencanamu ambyar dan jauh dari perkiraan.
Kesal, marah, sebal, kecewa, putus asa, patah semangat, dan bahkan patah hati selalu mengiringi setiap peristiwa - yang bisa dikatakan pahit untuk dicerna apalagi dimengerti - yang kadang membuat otakmu berputar dan spontan mengeluarkan kesimpulan berupa: SIAL.

Merasa tidak terima, wajar.
Angan-angan positif setinggi langit memang cerah terlihat. Namun, bila segalanya berakhir dengan mendung gelap disertai guntur yang menggelegar kemudian disusul dengan hujan yang sebegitu derasnya ditambahi datangnya badai topan yang dahsyat, kamu bisa apa? Rencanamu itu hanya tampak seperti seonggok angan-angan delusional.

Berpikir positif dan berencana sematang mungkin adalah satu paket, tidak bisa terpisah. Akan tetapi, satu hal yang sering dilupakan: mempersiapkan diri-hati-pikiran-kejiwaan ketika menghadapi hal terburuk dalam satu scene kehidupan. Kamu sering lalai dengan hal penting itu. Ya bukannya berprasangka buruk. Bukan. Hanya saja, penyeimbang perasaan itu amat sangat diperlukan, terlebih dalam situasi semacam itu. Selepas berangan-angan positif, sekonyong-konyong realita berbicara terbalik seratus delapan puluh derajat dari angan-angan. Kurang pedih gimana, sister?

Oh, sungguh.
Apa mau dikata.
Banyak kejadian ganjil yang tidak bisa diterka sebelumnya. Tidak sedikit kenyataan yang terpampang di depan mata terlihat jelas seolah-olah mengejek angan-angan positifmu yang tidak pernah terjadi itu. Banyak peristiwa aneh, tidak bisa dinalar, dan jauh dari prediksi. Angan-angan positifmu serasa cuma jadi partikel di ruang hampa.

Dan akhir dari semua kejadian ini cuma satu: yang kamu butuhkan hanyalah secangkir kopi.
Secangkir Kopi Bone-Bone Sulawesi
Good night!

Rabu, 20 September 2017

ICoSMEE 2017 - Pengalaman Pertama Selalu Berkesan

Helloooooooooo!!

Welcome to my blog, netizen!
Kali ini aku mo sharing tentang pengalamanku ikut salah satu seminar internasional. Daaaann, ini pengalaman pertamaku. *woohoo, I'm sooo excited*
Postinganku ini bakalan panjang banget, bakalan semau gue, dan pastinya lebay bin alay.
So, without any further do, let's get started!



ICoSMEE.
International Conference on Science, Mathematics, Environment and Education.
(((Kepanjangannya kayak gitu tuhhhh)))

Seminar internasional ini dihelat pada hari Sabtu, 16 September 2017 di Best Western Premier Hotel Solo Baru oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta atau biar lebih singkat sebut saja FKIP UNS.
Sebagai seorang mahasiswi yang hidup segan mati tak mau dalam menjalani kuliah yang tinggal sejengkal lagi, aku turut berpartisipasi dalam seminar ini sebagai Participant alias Peserta (((tentunya dengan membayar biaya seminar sebesar satu setengah JUTA rupiah))). Demi keberlangsungan pertahanan diriku sebagai seorang mahasiswi yang masih berkutat dengan p e n e l i t i a n.
-----semoga diri ini selalu bisa berbesar hati, bersabar, dan selalu mengharap rezeki yang tiada putus dari Tuhan Yang Maha Pemberi Dan Penjamin Rezeki makhluk-Nya-----


Pesertanya bejibun banget, coy. Sejumlah 191 paper untuk parallel session. Padahal 1 paper bisa terdiri atas 1-5 orang author. Ada yang dari Lampung, Nganjuk, Semarang, Medan, Jogja, Depok, Jakarta, Bandung, Surabaya, Jember, Bogor, *adududuhhh elll udahlah sebutin aja semuamuamuanya*, Kalimantan, bahkan Malaysia. Porsi peserta terbanyak teteuppp yaaa dari UNS. *yaiyalaaaaahhhhhh gilsssss*
Seminar ini dilaksanakan dalam waktu satu hari penuh, dibagi menjadi dua sesi: 1) Plenary Session, 2) Parallel Session, dari jam 8 pagi sampai jam 6 petang. Cucooookkk, cyiiiinnn~
Acara dimulai dengan sambutan-sambutan tentunya, baik dari ketua panitia (Puguh Karyanto, M.Si., Ph.D) dan rektor UNS (Prof. Dr. Ravik Karsidi). Namun, sayang pak rektor tidak bisa hadir sehingga hanya diwakilkan.
Next, tentu Plenary Session.
Plenary Session dibagi lagi menjadi dua: Plenary Session I dan Plenary Session II. Seluruh peserta (yang nantinya bakalan presentasi di Parallel Session) wajib hadir dalam Plenary Session ini.
Plenary Session I diadakan di Room Skyline 88 Fl. 21. Pembicaranya yaitu Prof. Steven Gilmour dari King's College London dan Prof. Amy Cutter Mackenzie dari Southern Cross University Gold Coast, Australia. Moderatornya yaitu Prof. Budiyono dari UNS. Kedua pembicara ini masing-masing memaparkan tentang application of design of experiments dan children in the anthropocene.
Plenary Session II dipecah jadi dua juga nih di ruang Room Skyline 88 Fl. 21 dan Room Skyline 89 Fl. 22. Berhubung jurusanku itu Pendidikan, sooooo aku tetap stay di Room Skyline 88 Fl. 21. Sementara itu, peserta lain yang jurusannya non-Pendidikan, dipersilakan pindah di Room Skyline 89 Fl. 22 yang diisi oleh Prof. Sulistyo Saputro dari UNS dan Sidrotun Naim, Ph.D. dari Surya University, serta dimoderatori oleh Dr. Suryadi Budi Utomo, M.Si. Kedua pembicara tersebut membahas tentang development of green analytical method based on solid-phase spectrophotometry for ionic speciatron in natural water dan from quorum sensing to remote sensing: an approach to shrimp farming.
*sampe sini lidahku kerasa keplintir, bro*

Well, sementara itu, di ruang yang masih aku tempati (Room Skyline 88 Fl. 21) diisi oleh Prof. Bob Bucat dari The University of Western Australia dan Kathy Malone, Ph.D. dari Ohio State University dengan moderator Prof. Maridi, M.Pd. dari UNS.
Prof. Bob membahas tentang exploring pedagogical content knowledge: overcoming professional amnesia, sementara Kathy Malone, Ph.D. membahas tentang STEM reasoning and learning in biology via modeling-based activities.
Selama di Plenary Session ini, aku lebih suka dengerin dan perhatiin aja sih. Dikasih kesempatan buat bertanya tapi aku keduluan sama peserta yang lain. *halah, alesan mulu.padune ora wani takon e kok*
Aku juga malah lebih nggatekke aksen pembicara-pembicara ini. Prof. Steven kental banget dengan aksen British-nya, aku suka dengerinnya. Walaupun banyak nggak ngertinya, tapi at least aku mengenal dengan baik logat-logat orang Inggris yang kental dengan aksen British-nya yang khas itu. Prof. Bob dan Prof. Amy logat Aussie-nya juga kentara. Masih mudah dimengerti olehku (itung-itung belajar listening nih kan yaaaaa), karena tempo bicaranya sedang-sedang saja. Nah, kalo Kathy Malone, Ph.D. ini purely American. Logat Amerikanya nggak bisa disembunyikan, mana tempo bicaranya cepet banget lagiiiii kayak buroq, Yaa Allah. Otakku tergopoh-gopoh mengikuti alur dan kecepatan bicaramu, Miss Kathy. :')
Setelah Plenary Session berakhir, tibalah saatnya Parallel Session. Aku kebagian di Room Violant 3 Fl.1. Dari lantai 21 menuju lantai 1 nihhhhh. Untung ada  lift. *ojo ndeso plis, ell*
Ada 19 paper yang harus dipresentasikan. Ruang ini khusus yang lingkupnya Physics Education. *makin ngerasa salah pilih jurusan kuliah sumpah sumpah sumpah*
Masing-masing peserta diberi waktu maksimal sepuluh menit untuk presentasi. Presentasinya sendiri dibagi jadi beberapa termin yang setiap termin digunakan oleh tiga peserta untuk presentasi. *you know what I'm saying?*
Nah, setelah tiga peserta presentasi secara berturut-turut, diadakan sesi tanya-jawab selama 15 menit. Begitu pula untuk termin selanjutnya.
Aku kebagian di urutan no. 06 nih. Deg-deg-an banget, badan ngga enak, maunya pipis melulu, mana AC-nya dingin pollll busetttttt *nah kan ketok ndesone*, soooo nervous, pokoknya semua rasa bercampur menjadi satu dan tidak dapat dideskripsikan dengan cakupan kalimat demi kalimat!
Tema yang aku angkat untuk presentasi ini yaitu tentang analysis of student's answer in resolving Boyle-Gay Lussac's Law problem.


Anyway, presentasinya nggak harus pake bahasa Inggris sih (sesuai kesepakatan antara peserta dan moderator di setiap ruang). Tetapi eh tetapi, berhubung slide PPT-ku terlanjur pake bahasa Inggris, YAUDAHLAHYA aku pake bahasa Inggris juga presentasinya. Sebenernya lebih ke males aja harus translate ke bahasa Indonesia kalo presentasinya pake bahasa Indonesia.
Dan...ya....padahal aku nggak ada persiapan sama sekali untuk presentasi ini! (((Gila dan nekat emang, Ya Allah, Ell, gitu amat lau -____-)))
Bikin slide PPT aja DUA JAM sebelum aku berangkat menuju lokasi. (Anyway, rumahku itu di Klaten. Lokasi conference di Solo Baru which means it took about an hour buat sampe ke sana. Aku berangkat sekitar jam 7.30 pagi. Yap. Aku bikin PPT sekitar jam 5 subuh. The real procrastinator. The real deadliner.)
Sama sekali nggak ada persiapan presentasi seperti ngomong di depan cermin, olah bahasa tubuh (gesture), improvisasi, ngapalin monolog, dll dsb dst. SEMUANYA DADAKAN macem tahu bulat. Ya itu aku apa adanya banget. Nyeplos aja sebisa aku. Bagian opening lancar sampe bagian isi. Giliran closing aja sampe kelupaan bahasa Inggrisnya 'terima kasih atas perhatian Anda'! >_<
Konyol!
*makanyaaaaaaa laen kali persiapan yang mateng donggggggg*
Cuplikan video presentasiku kayak gini nihhhhh:



Literally, itu murni tanpa suntingan apapun, direkam langsung dengan menggunakan smartphone. Yeahhhh, generasi milennial jaman now, pasti menginginkan setiap momen penting yang tercipta dalam kehidupannya ini dapat di-capture dan di-record sebagai kenang-kenangan atau buat pamer aja ke khalayak ramai.

Beberapa dokumentasinya aku share juga, aaahhhh~
Berfoto dengan Prof. Steven Gilmour dan Kathy Malone, Ph.D.
Di photobooth nihhhhh~
Foto bersama para peserta dan moderator di Parallel Session.
Banyak hikmah yang bisa aku petik dari peristiwa ini. (((tseeeehhh, peristiwa)))
Salah satunya dan yang paling penting adalah SEGALA SESUATU HARUS DIPERSIAPKAN TERLEBIH DAHULU.
Aku ini emang cenderung suka menunda-nunda sesuatu, the deadliner, paling males kalo menyicil sesuatu. Tapi ya itu, jadinya nggak maksimal kaaaannn. Aaaaahh, nyesel kaaaannnnn. AAAAAA!
*iyaa, nyesel emang belakangan, iyaaaaaa*
YAUDAHLAHYA.
Hal menarik lainnya yang bisa aku dapatkan dari event akbar ini: semangat belajar bahasa Inggris jadi meningkat lebih dan lebih. Makin ke sini, aku makin menyadari bahwa keterampilan berbahasa, khususnya bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, harus diasah banget banget banget. Kita bisa melihat dunia lebih luas, to be an open-minded person, dan cerdas-terampil dalam menjalani setiap sendi kehidupan, dengan berbekal bahasa Inggris yang baik. Terlepas apapun bidang minat yang kita pilih, kita semacam diharuskan untuk menguasai bahasa asing.


Sampe segini dulu cerita dari aku, guys. Kita sambung lagi di lain kesempatan, yak. Tentunya dengan kisah lain yang lebih seru, lebih epic, dan lebih lebay.
See you on my next post!

Rabu, 23 Agustus 2017

Sepatu Orang Lain

Tulisan ini aku sadur dari LINE. Aku ngga tahu penulisnya siapa. Tapi, pesan di dalamnya sungguh menarik dan bisa aku gunakan sebagai pengingat.

Kita hanya mampu membeli tas tangan seharga 500ribu rupiah. Ketika kawan kita membeli tas tangan seharga 5juta rupiah, kita bilang kawan kita berlebihan. Padahal ia belanja tak pakai uang kita. Ternyata ia sudah berhemat untuk tidak membeli tas seharga 40juta rupiah yang sanggup ia beli.

Kita hanya mampu hidup selalu di dekat suami. Ketika kawan kita berpisah jarak dan waktu dengan suaminya, kita bilang kawan kita gegabah. Kita bilang ia menggadaikan rumah tangga demi materi. Ternyata ia tetap hidup rukun dan bahagia dalam perjuangan rumah tangganya.

Kita hanya mampu menjadi ibu rumah tangga. Ketika kawan kita memilih bekerja sebagai pegawai, kita bilang ia menggadaikan masa depan anak. Ternyata ia bangun lebih pagi dari kita, belajar lebih banyak dari kita, berbicara lebih lembut pada anaknya, dan berdoa lebih khusyuk memohon pada Tuhan untuk penjagaan anak-anaknya.

Kita hanya mampu memiliki post uang belanja 1juta rupiah sebulan. Ketika kawan kita bercerita pengeluaran belanja bulanannya sampai 6juta rupiah, kita bilang ia boros. Padahal ia tak pernah berhutang pada kita. Pinjam uang pun tidak. Ternyata ia sedekah lebih banyak dari uang belanjanya. Ternyata ia tak pernah lupa membayar zakat.

Siapa yang rugi? Kita. Belum-belum sudah mudah menilai. bisa jadi malah buruk sangka. Padahal kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya orang lain hadapi, orang lain lakukan, di luar sepengetahuan kita.

Jangan mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita. Jangan pernah mengukur kehidupan orang lain dengan ukuran hidup kita. Rawan tak tepat.

Yuk, jangan mudah menghakimi.

Sabtu, 29 Juli 2017

Menang Tapi Tidak Menang

Menang memang menyenangkan,
tapi tidak dengan harga apapun.
Berhati-hatilah,
jangan sampai menginjak-injak orang lain.
(Elliza Efina, 05/04/2015)

Aku pernah menuliskan kalimat tersebut. Di twitter. Tepatnya pada pukul 12:51.
Entah. Waktu itu ada sesuatu yang kupikirkan, tapi aku lupa.

Banyak hal rumit di dunia ini. Banyak hal janggal dan terkadang tidak masuk akal. Banyak hal sederhana namun dibuat sulit. Banyak hal menyakitkan yang diabaikan. Banyak hal membahagiakan yang sekejap saja. Banyak hal absurd dan tidak mampu otak ini mencernanya.

Beberapa orang menginginkan suatu kemenangan, namun dengan cara yang salah: jalan pintas. Tidak menyukai proses yang membutuhkan waktu lama, tidak bersusah-payah dalam memperjuangkan, dan tidak mempedulikan kepentingan, perasaan, serta pengorbanan orang lain. Ya, namanya saja mau menang sendiri.

Jalan pintas itu memang menggoda. Peduli setan dengan orang lain. Orang lain rugi, kesakitan, menjadi korban, bukan jadi urusan. Enak sekali, ya? Menang dengan keji. Menang dengan menginjak-injak orang lain. Akan tetapi, bagaimana bisa kita melakukan itu? Di manakah hati nurani? Sudah matikah?

Jumat, 28 Juli 2017

Pikiran Kita, Kendali Kita

Seringkali aku menemukan orang yang berpikir terlalu jauh dan terlalu dalam, bahkan jauh dari kenyataan yang ada. Kemungkinan-kemungkinan yang (mungkin) bahkan tidak terjadi, turut muncul begitu saja. Over-thinking atau berlebihan dalam berpikir maupun berprasangka menumbuhkan bibit yang memberatkan pikiran di atas realita yang ada.
Ini ngganggu banget, loh!
Gimana nggak ngganggu?!
Kita hidup pada saat ini, di tempat ini, dan inilah realita yang kita hadapi. Tapi, berbagai macam prasangka membuat kita berpikir terlalu jauh. Dan pahitnya, itu hanyalah sebatas delusi yang kita ciptakan sendiri.
"Bagaimana nanti kalau .....?"
"Gimana bisa begitu? Coba kalau .....?"
"Andai saja aku waktu itu ....."
dan seterusnya, dan sebagainya.
tiga pilihan
Sebetulnya segala permasalahan hidup ini tergantung bagaimana kita menghadapinya, menyikapinya, dan menyelesaikannya. Semua tergantung kita. Dan tentu semua berawal dari pikiran kita. Kita bebas mengendalikan pikiran kita untuk menemukan solusi dari permasalahan yang ada. Kitalah yang seharusnya mengontrol sejauh mana pikiran kita bekerja di atas permasalahan yang kita hadapi, bukan kita yang menjadi korban alias kita yang dikendalikan.
Yhaaaaa, ngomong emang gampang...
Teori emang lebih mudah daripada praktik...

See?
Semua kembali kepada diri masing-masing.
Satu hal:
pikiran kita harus selalu berada di bawah kendali kita.

*self reminder*

Sabtu, 15 April 2017

Random Thoughts In The Evening

Kita pasti pernah menjalani satu titik dalam kehidupan di mana di titik itulah kejenuhan terasa. Kita tidak bisa menghindar darinya. Sekuat apapun kita berupaya untuk menjauh, justru semakin besar rasa kejenuhan itu menyerang.
Kejenuhan ini tidak dapat dideskripsikan dengan bahasa apapun. Intinya, jenuh. Itu saja. Kejenuhan bisa disebabkan oleh ada rutinitas yang dilakukan secara terus-menerus, monoton, tidak ada variasi, sehingga mengakibatkan rasa bosan itu muncul ke permukaan. Bahkan, kalau sudah berkarat dan menahun, rasa jenuh itu barangkali bisa berakar sampe ribuan tahun usia kita. *oke ini lebay, skip*
Aku pun merasakan hal itu. Jenuh. Bosan. Enggan untuk melakukan segala aktivitas yang berhubungan dengan hal-hal yang membuat jenuh tersebut. Sudah kucoba untuk mengalihkan dengan hal-hal lain (sebagai hiburan/rekreasi maksudnya), tapi tetap saja rasa bosan itu menggelayuti. Sumber dari rasa jenuh itu sebenarnya hanyalah keengganan untuk melakukan. I’m just reluctant to do anything. Sooo, rasa-rasanya selalu emoh buat meneruskan/melakukan.
Yang jelas, jangan sampai lupa diri. Memang butuh waktu untuk bisa kembali ke aktivitas ‘normal-yang-membosankan-itu’. Setidaknya, jangan sampai lupa diri, apalagi sampai sakit pikiran, perasaan, apalagi jiwanya.

Jumat, 31 Maret 2017

Mumbling Woohoo

Gini ya, setiap orang itu punya daftar prioritas masing-masing. Ngga bisa dong 'nasib' satu orang dengan orang lainnya disamaratakan. Ketika ada seorang wanita berusia 24 tahun sudah memiliki 3 anak kemudian dibandingkan dengan wanita lain berusia sama yang masih melajang dan menekuni karir di bidangnya, apakah itu adil?
Ketika ada seorang pria usia 17 tahun sudah menikah, 'mapan' karena meneruskan perusahaan milik ayahnya, punya background agama yang (boleh dibilang) kuat sehingga kondisi psikis dan ilmu/wawasan tentang berumah tangga sudah benar² matang, lalu dia ngajak² pemuda lain untuk menikah di usia muda seperti dirinya, adilkah? Padahal pemuda lain belum tentu punya kondisi yang sama seperti dirinya (ilmu, psikis, materi). Well, marriage isn't only about sex, right? There are so plenty things that should be considered. Don't be ridiculous.
Kenapa sih orang² demen banget banding²in?
• Si ibu X nanyain ke ibu Z "Anaknya udah bisa apa, Sis? Anakku 2 tahun udah bisa jalan loh."
• Tetangga sebelah nanyain ke ibu kita "Kapan mantu, Bu? Ngga kepengen buruan gendong cucu nih? Bu XYZ aja udah mantu loh bu, padahal anaknya baru umur 20. Blablabla..." *nyerocos terus sampe bulan berganti abad*
• dan lain-lain.
Tidak bisakah kita saling menghargai prioritas orang lain?

Jumat, 27 Januari 2017

Bagaimana Rasanya?

Sudah puaskah kamu?
Mengambil hak orang lain secara sengaja.
Mengambil buah pikiran orang lain tanpa izin.
Mengambil untung yang tidak halal sama sekali.

Sudah puaskah kamu?
Membuntuti dari belakang.
Mengatur siasat licik.
Kemudian sesegera mungkin menghunuskan pedang dari balik punggung orang lain.

Sudah puaskah kamu?
Menjadi bayang-bayang.

Sudah puaskah kamu?

Bagaimana rasanya?

Sudah siapkah kamu?

Tuhan menunggu di sana.
Menanti pertanggungjawabanmu atas pengambilan hak milik orang lain yang kamu nikmati.
Tuhan melihatmu.

Selasa, 24 Januari 2017

Drama (?)

Sebagian besar orang barangkali berpikir bahwa tidak ada gunanya mendramatisasi kehidupan. Aku berpikir bahwa hidup ini terlalu datar bila dijalani tanpa rasa, tanpa ekspresi, tanpa drama. Well, bukan drama berlebihanlah yang aku maksud. Terkadang dalam menanggapi suatu peristiwa, jangan terlalu datar juga memperlihatkan ekspresi wajah dan gestur tubuh. Terlihat seperti fisik yang tiada berperasaan kalau seperti itu. Dramalah seperlunya. Boleh ungkapkan bila sedih, boleh perlihatkan bila kecewa, boleh nyatakan jika marah, boleh tertawa lepas saat bahagia, boleh kegirangan ketika bangga, boleh terkejut tatkala kagum, dan banyak hal. Aku pribadi lebih nyaman berlaku demikian. Rasanya bebas sekali menjadi diri-sendiri. Tidak perlu berbohong terhadap kenyataan. Walaupun seringkali hal ini dianggap kekanak-kanakan, tiada dewasa sama sekali, biarlah. Aku tidak peduli. Sesekali drama boleh saja menurutku. Siapa larang? Orang lain? Haha. Mereka hanya bisa berkomentar tanpa pernah mengetahui langkah-langkah kehidupan macam apa yang sudah kualami. Aku hanya ingin bebas mengekspresikan. Itu saja. 

Minggu, 12 Juni 2016

Bahagia Belum Tentu Bahagia

Tidak semua kabar bahagia membuahkan rasa senang dalam jiwa. Ada hati yang patah di baliknya. Rasa kesal, iri, turut suka cita bercampur menjadi satu. Tidak enak rasanya. Sampai-sampai air mata yang jatuh ke pipi tidak memberikan definisi apapun, senang atau sedih.

Keikhlasan pun diuji. Segala teori yang tertanam di otak dan terhujam di hati mulai dipraktikkan di dunia nyata. Tidak semudah yang dibayangkan. Butuh jiwa yang sungguh tegar, mental yang sangat kuat, dan keyakinan yang begitu besar untuk menghidupkan raksasa ikhlas ini. Tidak semudah itu. Tidak semudah itu. Tidak semudah itu.

Pada dasarnya aku percaya bahwa ketetapan Tuhan itu absolut. Tuhan pasti memberikan jalan yang paling baik bagi makhluk-Nya. Hanya saja untuk perkara nasib yang bisa diusahakan, aku sedikit skeptis. Terkadang aku merasa upayaku telah maksimal, doaku yang terpanjat juga terhitung dengan frekuensi sangat sering, motivasi dan keyakinan diriku pun tanpa batas. Namun, ketok palu dari Tuhan memberikan vonis untukku dengan jawaban: tidak. Tidak untuk saat ini. Barangkali di lain waktu masih bisa kuperoleh kesempatan itu. Barangkali.

Lihat, bahkan untuk saat-saat kritis seperti ini pun aku masih menyalakan harapan. Bukan apa-apa, aku hanya menghibur diri. Terlalu singkat rasanya umur ini bila hanya dihabiskan untuk meratap. Akan tetapi, sungguh, ini sulit sekali bagiku. Rasa sesak yang tersimpan di hati masih terasa.

Sesungguhnya aku tidak ingin memelihara rasa sakit di hati. Bukan inginku. Bahkan aku berupaya untuk mengusirnya. Tapi, semakin keras kuupayakan, semakin ia menguatkan ikatannya di dalam hatiku. Oh, beratnya. Oh, pahitnya. Dan pada akhirnya hanya satu penyembuh sementara bagiku untuk meredakan setiap gejolak rasa sakit itu: mengelus-elus kucing peliharaanku di rumah.

Berjalan di Atas Bara Api

Bertahun-tahun sudah kulalui jalan ini. Jalan yang sama sekali tidak membuatku nyaman. Jalan yang bukan merupakan pembebasanku atas tawa liarku. Jalan yang justru membawaku jauh dari rangkaian mimpiku. Semacam tersesat. Sengsara sekali rasanya menjalani hari demi hari dengan tapak kaki penuh luka akibat menjejakkannya pada bara api yang menyala-nyala. Derita ini tak akan pernah usai bila ku sendiri tak menghentikannya. Ya, berawal dari diri-sendiri.

Ini semua berawal dari keterlanjuran. Aku terlanjur memilih. Karena toh kupikir semua akan baik-baik saja dan aku bisa melewatinya. Aku pun masih hidup. Sehat. Memang betul demikian adanya. Namun, bila ditilik lagi lebih dalam, yang ada hanya siksaan. Aku tersiksa, menderita, sengsara karena jalan yang kupilih sendiri. Salahku? Baiklah, ini memang salahku. Saat itu aku memutuskan hal ini dalam keadaan di mana aku tidak bisa berpikir jernih dan berakal sehat. Penuh tekanan akibat amarah dari ayahku yang bertubi-tubi ditujukan kepadaku karena aku tak kunjung lolos untuk mendapatkan bangku kuliah. Sehingga, ketika pengumuman SNMPTN itu tiba, aku merasakan euforia yang teramat sangat membahagiakan. Saat itulah akal sehatku tidak bisa bekerja dengan baik. Hingga akhirnya aku menutup peluang-peluang lain dan menetapkan hasil SNMPTN itulah sebagai tujuan akhirku.

Setelah semua terjadi dan berlalu, aku baru menyadari bahwa ini bukan yang aku mau. Ini bukan jalanku. Ini bukan inginku. Ternyata aku menciptakan neraka di dalam hidupku sendiri. Aku tak tahu sampai kapan aku sanggup berjalan di atas bara api yang senantiasa terasa panas dan menyakitkan saat dipijak.

Kamu Nggak Suka Sama Saya. So?

"Ell, si xxx itu nggak suka sama kamu, loh."
"Emang nggak suka kenapa?"
"Katanya kamu itu blablabla..."
"Oh, terus kenapa?"
Well, saya pernah mendapati percakapan yang demikian. Pertanyaan terakhir saya: terus kenapa?
Menghadapi orang yang nggak suka sama saya itu sebenarnya simpel aja. Cuekin. Biarkan saja ia atau mereka punya persepsi yang bukan-bukan mengenai saya. Orang-orang yang nggak suka ini (biasa disebut haters sih) *biar kekinian* adalah orang yang rela banget menghabiskan waktunya hanya untuk membenci saya. Duh, daripada benci mbok sayang aja sama saya. Pada dasarnya saya ini orangnya penyayang, loh. HAHAHA.
*ketawa songong*
*kemudian digampar*

Haters ini yah, aduh, sumpah deh, kurang kerjaan banget. Belum begitu kenal sama saya tapi sudah menjustifikasi yang macem-macem. Gimana, ya? Saya begini, dikomentarin begitu. Saya begitu, diprotes begini. Saya diam, dibilang lemah. Saya pecicilan, dikatain cewek nggak bener. Saya berwajah datar, disangka sok galak. Saya tersenyum, dikira sok cantik-sok manis-sok atuh. -____-
TERUS AKU KUDU PIYE?

Ternyata memang benar bahwasanya apapun yang saya lakukan, bagaimanapun tingkah saya, seperti apapun diri saya, akan selalu ada orang yang demen banget ngomentarin macem-macem. Nah, kalo begini adanya, bukankah jalan satu-satunya dan yang terbaik adalah cuek? Lebih baik saya menggunakan kedua tangan saya untuk menutup kedua telinga saya dari komentar-komentar nyinyir dan jahat dari orang para haters ini daripada saya berusaha membungkam mulut-mulut mereka dengan hanya menggunakan kedua tangan yang saya miliki.
*quote of the day*

Lalu bagaimana? Apa langkah selanjutnya?
Tetap berbuat baik. Tetap menjadi baik. Tetap selalu baik. That's it!
Nggak ada yang lebih baik dari kata 'baik'. *ya iya laaaaahh*

Seperti kata Kurt Cobain: saya lebih baik dibenci sebagai diri-sendiri daripada disukai orang karena saya berpura-pura menjadi orang lain.
Close enough.
Seperti itulah.