Tampilkan postingan dengan label Sajakku - Suara Hatiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajakku - Suara Hatiku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Maret 2018

Dua Gelas Minuman

Katanya, kita harus menuruti kata hati.
Katanya, kita juga harus mementingkan akal pikiran.
Katanya, kita harus percaya intuisi.
Katanya, kita juga harus pandai menganalisa.

Namun, bukankah hidup ini tidak lebih dari senda-gurau belaka?
Lalu, untuk apa berpikir dan bertindak terlalu keras padahal semua sudah ada yang mengatur?
Ya, kita tidak boleh berpasrah semata.
Pun tidak boleh terlalu sungguh dalam apapun.

Semua kisah yang terjadi pasti ada alasan.
Segala peristiwa tidak berlalu begitu saja.
Apapun situasi dan kondisi yang ada pasti sudah ada jalannya sendiri.
Bagaimanapun atmosfernya memang sudah beralur demikian.

Aku bukanlah pemaksa.
Bukan juga pemasrah.
Aku bergerak mencari.
Tapi, aku juga diam menanti.

Sudahlah, kita nikmati sejenak minuman kita.
Biarkan waktu berlalu tanpa jeda.
Selama kau dan aku bersama.
Semua akan baik-baik saja.



Complete review of the beverages please kindly follow this link: Brix Coffee





di pojok cafe
sendiri
sedang teringat kamu yang di sana
22/03/2018 04.29 pm

Sabtu, 17 Februari 2018

It Will Be Okay

Never doubt an intuition. Follow your heart but take your brain with you. Kinda joke but apparently not at all. In some particularly ways, you get what's yours, you deserve it. You cure, you love, you laugh, you lose, you learn, you win, you fall, you're in faith, you're in despair, you're in sorrow, you're in gladness. You're too much strong to handle the tortures. You're worth the wait. Every single thing seems easy to do, but when you face it, it'll never be the same again. It needs the goddamn strength, a freaking body persistence, and a great patience as hell. Sounds terrific, weird, chaotic, dumb, and scary at the same time. However, in the end, it'll all be okay.

Senin, 08 Januari 2018

Hujan Siang Hari

Terkadang sesuatu yang kita anggap menyebalkan justru menjadi berkah tersendiri di saat-saat tertentu.
Aku sangat benci dengan hujan, terlebih ketika aku punya rencana untuk beraktivitas di luar ruangan dengan frekuensi tinggi.
Kemudian, tiba-tiba hujan.
Byar!
Hancur semua rencana begitu saja.
Suasana hati menjadi tidak karuan.
Aku tahu, tidak sepantasnya aku mengutuki hujan.
Bahkan dianjurkan bagi kita untuk banyak-banyak berdoa dan berharap di saat hujan berlangsung karena hujan merupakan rahmat.
Hanya saja tingkat keimananku tidak setebal itu.
Aku masih saja beranggapan bahwa hujan adalah penghalang.
Namun, ada hal yang berbeda siang ini.
Hujan tetiba datang.
Membasahi halaman rumahku.
Dan spontan kuucapkan doa, kulantangkan harap.
Kepalaku berisik oleh keinginan-keinginan.
Di saat yang sama, hati terasa damai.
Sungguh.
Terkadang sesuatu yang kita anggap menyebalkan justru menjadi berkah tersendiri di saat-saat tertentu.

Rabu, 22 November 2017

Cuteness Overload - Chacha Milk Tea

Bahagia paling mudah didapatkan dari tawa. Sesederhana itu. Tertawalah. Salah satu hormon pemicu kebahagiaan dalam diri pun memancar secara otomatis. Iya. Tertawa. Seperti sore itu. Obrolan kecil tanpa jeda mengalun seirama dengan emosi positif yang membuncah. Dua gelas milk tea aneka rasa bertindak sebagai mediator - penengah tatkala kehabisan energi akibat saking bisingnya gagasan-gagasan di kepala yang telah diluapkan melalui kata dan kalimat - dalam dua jam percakapan. Waktu berjalan tanpa terasa. Waktu sudah habis pada akhirnya. Satu-satunya penghenti percakapan yaitu waktu sudah habis.
Green Milk Tea & Caramel Milk Tea
Minuman yang sesungguhnya sangat tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi. Kombinasi teh dengan susu bukanlah sesuatu yang tepat untuk diserap dalam tubuh. Terlalu banyak kalori. Namun, apalah arti kalori kalau perkara rasa sudah berbicara.
French Fries Original
Minum saja tidak cukup. Pasti ada cemilan sebagai kawan. Kentang goreng rasa original sungguh pilihan tepat. Jeda terbaik dalam sebuah percakapan adalah saat mengunyah makanan dan menenggak minuman. Setelahnya, percakapan kembali mengalir. Detik demi detik yang bergulir tiada akan terdeteksi. Semua terasa cepat. Dan, akhirnya pulang.

Selasa, 21 November 2017

A Piece of Sweet Afternoon - Calais

Setiap kisah kerapkali dihadirkan tanpa kata awalan, kata penunjuk, bahkan kata perintah. Ada segelintir cerita yang mengalir begitu saja ketika kita berada pada titik kulminasi, entah itu titik terendah atau tertinggi. Boleh jadi, memang semesta menyajikannya demikian, agar hati kita siap dalam menghadapi garis kehidupan selanjutnya. Kita tidak bisa menolak, memungkiri, dan menampik segala peristiwa yang telah terjadi. Tuhan beserta semesta bekerja sama untuk itu. Kita? Terima saja. Jalani saja. Hadapi saja.
Smoothies and Coffee
Ada satu titik yang tidak terdefinisi oleh akal maupun rasa. Disebutnya keajaiban. Dan aku menyebut itu kita.

Di sepanjang milisekon bergulir, berjumpa dengan ribuan manusia, berjibaku dengan milyaran kata demi kata, berelaborasi dengan partikel super kerdil tak kasat mata di mana pun berada, beradu emosi dengan peristiwa demi peristiwa, kalau memang sudah ditakdirkan untuk terjadi, maka terjadilah.

Dan, bila strawberry smoothies serta coffee milk tea telah bertukar cerita satu sama lain, manis pahit asam terasa sangat jelas di indera kita. Dan nyata, kita telah saling. Satu hal: kenapa baru sekarang?
Kemudian terjawablah: karena memang ini yang terbaik dan tepat.

Complete link to read the beverages: Calais Tea

Minggu, 24 September 2017

Lalu, Hakimilah Aku!

Tiadalah guna menjelaskan kepada orang-orang
Peduli apa?
Sekadar tahu kemudian berlalu
Tipikal anti-empati tapi gemar menikmati isu

Aku bukan terjebak di dalam drama
Inilah nyata yang aku rasa
Aku alami betul-betul apa adanya
Hanya saja mereka anggap aku gila

Bagaimana mungkin orang lain paham?
Sementara mereka tidak berada di posisiku
Kemudian siapa yang kejam?
Semena-mena menjustifikasiku

Oh, lalu aku sadar bahwa aku hanyalah seorang pemimpi
Yang selalu berharap segalanya riil dan terjadi
Namun, sekejap kemudian aku menyadari
Banyak hal absurd yang cuma berakhir dalam imaji

Tangis ini ada
Air mata mengalir melalui pipi dan menetesi dada
Rongga hidung pun basah
Menyisakan kepedihan yang sudah terlalu lelah dan payah

Terlambat sudah terlambat
Sesal memberikan kecupan selamat
Kepada otak dan hati yang menanggung berat
Penat

Hey, terjebak atas keputusan (bodoh) sendiri adalah kepahitan yang harus ditelan
Seiring dengan waktu berjalan
Dan harus dilalui sampai titik darah penghabisan
Sanggupkah aku bertahan?




13/09/2017
20.37
Kamar Mungil

Menyerah Semenyerah-Menyerahnya

Kuputuskan untuk menyerah
Malam ini
Semua serasa runtuh
T'lah habis rasaku
Raib sudah semangatku
Beginilah jadinya bila segalanya dipaksakan
Tidak ada gunanya
Habis sudah tangisku
Kering sudah air mataku
Pedih hati tapi tak bisa ungkapkan
Bibir seakan menjerit namun terbungkam
Malam ini kuputuskan
Menyerah saja

04/07/2017
22.19
Sudut tempat tidur

Selasa, 29 September 2015

Berdamai dengan Masa Lalu

Kulemparkan senyumku pada seraut bayang-bayang yang ada di dimensi lain
Sudah jauh ada di belakangku
Namun, terkadang bayang-bayang itu menepuk pundakku
Andai aku bisa akan kuenyahkan jauh dari pandanganku
Tapi aku bisa apa?
Tak ada cara lain kecuali memeluknya
Bayang-bayang itu adalah bagian dari masa laluku
Yang sudah jauh kutinggalkan

Tangisan dan jeritanku telah hampir habis
Kering, bersisa sedikit saja
Lebih banyak sesalnya
Tapi aku bisa apa?
Membuatnya raib sempurna pun aku tak mampu
Seakan ia kekal

Aku hanya punya dua pilihan
Satu, aku bersedih - kenyataan hidupku tetap begini
Dua, aku berbahagia - kenyataan hidupku pun tetap begini
Tentu yang paling menyenangkan pilihan nomor dua

Andaikata pilihan kedua itu dapat dilakukan semudah mengedipkan mata
Andaikata tak seberat beban di hatiku yang berkali-kali hancur
Andaikata aku bisa mengikhlaskannya dengan ringan hati
Andai dan andai
Penanda tiadanya positif pikiran dan niat

Sudahlah, lepaskan semuanya!
Berdamailah dengan masa lalu
Hanya itu satu-satunya jalan agar kebahagiaan itu bisa selalu berada dalam rengkuhan jiwa


Senin, 31 Agustus 2015

Air Mata dan Jeritan

Terduduk termenung ku di tepi savana luas
Kuharap ku tak lihat ujung demi ujungnya
Sayangnya pandanganku berbatas
Bolehkah ku menangis sekarang?
Air mata ini keluar dengan sendirinya tanpa kuperintah
Bahkan aku tak tahu apa sebab air mata ini muncul
Barangkali ia rindu akan jeritan
Sayang sekali jeritan itu tak kunjung datang
Jeritan itu bersembunyi di balik air mata yang telah jatuh berdebam ke bumi
Membasahi tanah yang tak subur lagi
Betapa ingin kupersatukan air mata dengan jeritan
Agar tak lagi ada rasa iri di antara keduanya
Supaya adil kehadiran mereka untuk menopangku
Dudukku kini mulai melemah
Lelah kemudian kubaringkan saja
Kunikmati jeritan yang ada di dalam bulir-bulir air mata yang mengalir di kedua pelipis
Bukan lagi di kedua pipiku
Biar kurasakan hangatnya pedihnya
Hingga habis dan kering air mata ini
Dan hanya tersisa jeritan yang siap untuk digarangkan

Rabu, 11 Maret 2015

Here We Go

Here we go...
I'll tell you a story about the failure and mistakes
But I don't want to

Here we go...
I have some sad stories and darkness side
But I don't want to make poems about the sorrow

Here we go...
It goes wrong and broken deep inside
But I don't want to despair

Here we go...
I just want to be happy
But I cannot lie

Here we go...
It's the pain
But I don't find the cure yet

Here we go...
Doing something, struggling for it, trying to make all dreams come true
But I got so far

Here we go...
Too much expecting, too high the hopes, too much believing
But I don't find the same way

Here we go...
I sing a love song
But I truly sing a misery

Here we go...
I listen to the good quotes
But I'm not as strong as the quotes

Here we go...
Desperate, surrender, shellacking, anguish, sorest
But I want to be happy, just to be happy at all

Here we go...

Here we go...

Here we go...

Kamis, 05 Maret 2015

Smell The Scent

I'm kissing a piece of tranquility. I can smell the scent, good scent. All I need is a conviction. The hope will always by my side no matter how hard it is. I just wanna raise myself, look ahead, no comparing to others, just being myself. I'm a true believer. I'm a good opportunist. I believe in intuition. I have a great feeling. I'm a strong girl. I... I... I....
It's just all about me.

I Dunno

Stuck.
I never imagine I got this way. Feeling embarrassed, tired. Seems like I have no hope anymore. Every step I took makes me sadder. Deep down in sorrow. Look, who am I? I'm so tiny, weary, stubborn, dumb, what else? I feel like I'm in the depths of misery.
I'm in despair. Almost surrender. I dunno. I don't have any ideas. I dunno. I dunno. I dunno.

Jumat, 20 Februari 2015

God, I Call You~

God, I call You~
Please, hug me
I need Your strength
I need Your passion

God, I call You~
I know You are my everything
I see You are much closer than my artery
Please, raise me

God, I call You~
Please, don't leave me
I really really need You in my entire life
Even when I'm dead

God, I call You~
Help me
Pardon me
Please, give Your affection to me

Rabu, 18 Februari 2015

Ketika Sepertiga Malam Menjadi Saksi

Apatah arti keheningan dan kesendirian di sepertiga malam
Tumpah ruah semua pinta yang berkecamuk di otak
Bibir terkunci rapat tetapi hati dan pikiran berteriak kencang

Aku percaya Tuhan menggenggam semua doaku, harapanku, permintaanku
Dia mendengar keluh kesahku, mengusap pipiku dari air mata kepedihan
Lekas-lekas kutata kalimat per kalimat agar tersampaikan dengan baik di hadapan-Nya

Aku bukanlah penyair hebat
Pun bukanlah saintis ideal
Aku hanya perempuan biasa

Yang membuatku berpikir aku ini kuat hanyalah Tuhan
Entahlah, kalau Dia tak mengangkatku, bagaimana aku bisa sampai di sini?
Aku berupaya untuk mensyukuri apa yang ada di diriku

Semua yang terjadi dalam kehidupan ini kuserahkan pada Tuhan
Apapun itu, segalanya
Aku percaya Tuhan selalu memberikan yang terbaik



Jumat, 06 Februari 2015

Pemberontak~

Lelahku terakumulasi malam ini
Mataku layu bahkan sekedar untuk membalas tatapan manis kucingku
Namun, keinginan untuk melihat hal baru selalu membuncah
Keinginan untuk membahasakan perasaanku dalam bentuk tulisan mini selalu memberontak
Ah, ya, akulah sang pemberontak

Aku tak pernah bisa dengan mudahnya mengiyakan pernyataan manusia lain
Aku terlalu sering mengelak
Aku keras kepala

Dan percaya atau tidak
Aku seringkali mengakhirinya dengan tangisan
~ ~ ~ ~ ~

Rabu, 04 Februari 2015

Bisikan Sore Hari

Kulemparkan segala harapanku ke langit sana
Kuharap Tuhan menggenggamnya
Aku tak pernah surut meminta kepada-Nya
Karena kepada siapa lagi aku harus mengemis doa?

Pintaku banyak dan sering jauh dari hal nyata
Tapi bukan berarti itu mustahil, bukan?
Bahkan hanya dengan aku membatin Tuhan pun mengetahui
Lalu apa yang mesti diragukan?

Kulakukan, kujalani, dan kupasrahkan
Kubiarkan Tuhan menyelesaikan perjalananku setelah aku berlelah-lelah mengupayakan
Kuadukan segala letihku, payahku, deritaku
Karena aku tahu aku mengadu di tempat yang tepat

Aku tak berharap apapun pada siapapun kecuali Tuhan
Aku adalah peminta yang lancang
Selalu memaksakan segala hal kepada Tuhan
Entahlah, aku selalu yakin bahwa tiada yang mustahil bagi-Nya

Maafkan aku, Tuhan
Terlalu banyak dosaku tapi aku tak pernah lelah meminta samudera ampunan-Mu
Terlalu tak tahu malunya aku di hadapan-Mu
Namun, kepada siapa lagi aku meminta, memohon, mengemis selain kepada-Mu, Tuhan?



Senin, 02 Februari 2015

Berat, Lelah, Letih

Apa aku terlalu berlebihan dalam memandang beban yang ada di kepala?
Hingga sakit kurasa
Pening, menjejaki otakku yang mungil ini
Berat sekali oh berat

Apa aku kurang santai dalam menghadapi hari-hariku?
Hingga keengganan demi keengganan yang berdetak di jantungku
Enggan, sungguh hanya kata 'ogah' yang berputar-putar di depan mata
Sangat lelah oh lelah

Apa aku kurang bersyukur dalam menerima kenyataan?
Hingga segala yang kuingin adalah harus lebih dan lebih
Kurang, yang kulihat selalu kurang
Letih oh letih

Keraguan, Pergilah!

Kutuliskan jutaan mimpi yang berkelebat di kepala
Kurangkaikan kata demi kata agar makna di baliknya tersampaikan dengan rapi
Kulukiskan wajah kebahagiaan yang sangat kudamba dalam hari-hari perjalanan hidupku
Kupejamkan mata dan kusunggingkan senyuman penuh arti

Kucoba tanyakan kepada Tuhan berbagai hal yang masih membuatku ragu
Terkadang jawaban yang belum ditampakkan kudahului dengan spekulasi lancangku
Sampai kapan seperti ini?
Otakku lelah, jantungku sudah lemah menanti jawaban pasti

Setiap detik yang berlari seakan mencoba mencandaiku
Menertawakanku dalam ketidaktahuanku
Entah, ini perasaan yang tak wajar bagiku
Ini menyulitkanku

Terpikir olehku untuk segera mengakhiri keraguanku
Aku harus segera berontak, mengenyahkan keraguan yang mendampingiku selama ini
Membiarkannya pergi jauh milyaran mil dariku
Hingga aku terlupa dan tak pernah ingat keberadaan keraguan itu


Sabtu, 31 Januari 2015

Antara Gamang dan Ragu

Aku memalingkan wajahku dari keraguan kepada kegamangan
Sama-sama menyebalkan
Hei, mengapa tak kurobek saja sekat itu?
Bukankah keraguan harus ditinggalkan?
Bukankah kegamangan harus dihilangkan?
Kalau aku hanya berlari-lari bodoh seperti ini, bagaimana aku terbang?

Banyak pertanyaan yang mesti dijawab
Limpahan kenyataan sudah tersaji di depan penglihatan
Jangan cuma menunggu waktu
Waktu pun bahkan lelah untuk memantaskan dirinya
Memantaskan diri untuk bersegera memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kejam yang tengah berseliweran di kepala

Oh, tunggu apa lagi?
Lagipula aku lelah bermain drama
Memainkan peran sebagai bukan diriku itu menyakitkan
Melelahkan dan mengesalkan
Menghabiskan energi yang setiap hari harus diperbaharui
Menghitung-hitung waktu yang telah terbuang entah ke mana

Aku tak ingin mempermainkan waktu
Karena aku juga tak ingin dipermainkan olehnya
Betapa sedih dan susahnya melakoni peran yang salah
Harus sesegera mungkin membuat perubahan
Agar waktu tak berkhianat kepadaku

Sabtu, 24 Januari 2015

I Don't Wanna Survive, I Wanna Live

Aku sudah terlalu lelah
Menyesuaikan diri itu benar-benar butuh waktu dan proses
Tidak ada yang instan
Kau tahu, menggeluti sesuatu yang sama sekali belum pernah kau jumpai itu bukan hal yang mudah
Semudah-mudahnya pun paling hanya sebatas permukaan saja
Bukankah dituntut untuk memahami sampai akar-akarnya?

Jangankan memahami dunia lain, memahami diri-sendiri saja sulit
Duniaku serasa bagai main lompat-lompatan
Ke situ, ke sana, kemari
Layaknya masih suka mengombang-ambingkan diriku sendiri

Oh, sungguh menjemukan
Aku tidak mampu bertahan lama dalam suasana hatiku sendiri
Aku mudah bosan
Aku hanya berupaya untuk mencari suasana lain untuk membunuh kejenuhanku
Hanya itu

Aku usahakan untuk membuat semuanya mengalir begitu saja
Karena yang kuyakini tetap satu:
Aku tak mau bertahan, aku hanya ingin hidup.