Selasa, 12 Januari 2016

Asumsi Sebagai Suatu Bentuk Kebenaran

Pendahuluan
Manusia terlahir dengan membawa akal. Akal atau logika berpikir inilah yang menjadikan manusia memiliki derajat paling tinggi dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lain. Dengan akal, manusia diberi kecerdasan berpikir dan keluwesan dalam menentukan keputusan. Asumsi merupakan bagian dari akal. Setiap orang terbiasa melakukan asumsi dalam menjalani kehidupannya. Berbagai peristiwa yang terjadi silih berganti dari hari ke hari membuat manusia berpengalaman dalam melakukan asumsi. Misalnya, ketika cuaca mulai mendung, orang-orang cenderung mempersiapkan payung atau mantel bila bepergian. Mereka mengasumsikan akan terjadinya hujan dengan melihat indikasi langit yang mulai menampakkan awan mendungnya, sehingga mereka melakukan pencegahan agar tidak kehujanan dengan membawa payung atau mantel. Padahal dalam hal ini, cuaca yang mendung tersebut belum tentu akan mendatangkan hujan. Namun, manusia cenderung melakukan asumsi tersebut berdasarkan pengalaman yang sebelumnya pernah dialami. Atas dasar pengalaman itulah manusia belajar tentang asumsi.

Definisi Asumsi
Asumsi adalah suatu pernyataan yang tidak terlihat kebenarannya, atau kemungkinan benarnya tidak tinggi. Belajar dapat dipahami sebagai penyimpan informasi mulai dari menerima informasi dari perhatian, pemahaman dan urutan peristiwa langsung ataupun tak langsung sehingga dapat disimpan melalui ingatan dan direproduksi untuk menimbulkan motivasi dalam mengingat (Purwandari, 2013).
Asumsi diperlukan dalam pengembangan ilmu. Tanpa asumsi, anggapan orang atau pihak tentang realitas bisa berbeda, tergantung pada sudut pandang dan kacamata yang digunakan. Asumsi merupakan anggapan atau andaian dasar tentang sebuah realitas. Asumsi adalah anggapan dasar tentang realitas objek yang menjadi pusat perhatian penelaahan kita. Asumsi merupakan pondasi bagi penyusunan pengetahuan ilmiah (Suriasumantri, 1984). Selain asumsi yang dimiliki ilmuwan, ilmu sendiri pada dasarnya memiliki dasar asumsi yang tidak boleh diganggu gugat agar ilmu bisa tetap berdiri.

Kriteria Kebenaran
Kriteria kebenaran adalah tanda-tanda yang memungkinkan kita mengetahui kebenaran. Koherensi dan kepraktisan merupakan contoh kriteria macam ini. Adakalanya consensus gentian (kesepakatan umat manusia), dianggap sebagai salah satu kriteria kebenaran (Anonim, 2014). Dengan kata lain, kebenaran merupakan hal yang sudah disepakati sejak awal dan memiliki makna yang dapat diterima akal sehat maupun yang absurd sesuai dengan keyakinan manusia.

Asumsi dalam Konteks Keilmuan
Ilmu yang paling maju yaitu fisika. Hal ini disebabkan oleh fisika memiliki cakupan objek zat, ruang, gerak, dan waktu. Newton dalam bukunya Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) berasumsi bahwa keempat komponen ini bersifat absolut. Zat bersifat absolut dan dengan demikian berbeda secara substantif dengan energi. Sedangkan, Albert Einstein berbeda pendapat dengan Newton. Dalam The Special Theory of Relativity (1905), ia berasumsi bahwa keempat komponen itu bersifat relatif. Tidak mungkin kita mengukur gerak secara absolut. Asumsi dalam ilmu sosial lebih rumit. Masing-masing ilmu sosial memiliki berbagai asumsi mengenai manusia.
Purwandari (2013) menjelaskan lebih lanjut bahwasanya dalam mengembangkan asumsi harus memperhatikan dua hal:
1.                  Asumsi harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi yang seperti ini harus operasional dan merupakan dasar dari pengkajian teoritis.
2.                  Asumsi harus disimpulkan dari ‘keadaan sebagaimana adanya’, bukan ‘bagaimana keadaan yang seharusnya’.
Pembahasan tentang asumsi-asumsi dasar proses keilmuan manusia dibahas mulai pada spektrum yang paling kiri, yaitu rasionalisme, sampai ke spektrum yang paling kanan, yaitu intuisionisme. Pembahasan tentang rasionalisme dimulai dari Descartes sampai kepada Wolff. Rasionalisme menganggap bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasio. Berpikirlah yang membentuk pengetahuan. Manusia sebagai subjek timbulnya pengetahuan, adalah makhluk yang berpikir. Pada gilirannya, berdasarkan pengetahuan dari hasil berpikir itulah manusia berbuat dan menentukan tindakannya (Muslih, 2005:52).

Kesimpulan
Keberadaan asumsi sebagai bagian dari suatu bentuk kebenaran merupakan hal yang sangat penting karena asumsi berfungsi sebagai bagian mendasar yang harus ada. Asumsi memiliki posisi di berbagai bidang disiplin ilmu bahkan keberadaan asumsi pun ada dalam hukum alam. Akan tetapi, berkaitan dengan kebenaran, asumsi ini belum terbukti dengan pasti dianggap sebagai suatu kebenaran. Hal ini dikarenakan asumsi tidak memenuhi persyaratan sebagai suatu bentuk kebenaran.

Bibliografi
Anonim. (2014). Definisi Kebenaran. Diakses dari http://arti-definisi-pengertian.info/definisi-kebenaran/. 1 November 2015.
Muslih, Mohammad. (2005). Filsafat Ilmu: Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar.
Suriasumantri, Jujun S. (1984). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Agape Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar